Dinapooh’s Weblog

Mei 5, 2008

Unnes Bercita-cita Go Internasional

Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori — dinapooh @ 9:06 am

Unnes adalah salah satu Universitas Negeri yang ada di Semarang yang terletak di barat kota Semarang, tepatnya di kabupaten Gunung Pati. Unnes merupakan perkembangan dari IKIP Semarang. Dulu, orang lebih mengenal Unnes sebagai universitas yang mengutamakan jurusan Ilmu Pendidikan, tapi menjelang abad ke-20, Unnes mulai membuka jurusan Ilmu murni. Selain itu, program pasca sarjana juga dibuka di Unnes. Unnes adalah Universitas yang terdiri atas delapan fakultas yaitu fakultas ilmu pendidikan (FIP), fakultas bahasa dan seni (FBS), fakultas ilmu sosial (FIS), fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam (FMIPA), fakultas teknik (FT), fakultas ilmu keolahragaan (FIK), fakultas ekonomi (FE), dan yang baru saja dibuka adalah fakultas hukum (FH). Masing-masing fakultas ini terdiri atas beberapa jurusan yang rata-rata mahasiswanya sangat banyak. Fasilitas dari masing-masing fakultas sangatlah bervariasi dan dapat pula dianggap lengkap. Namun, dilihat dari segi mahasiswa fasilitas tersebut belum digunakan secara maksimal.

Seiring berjalannya waktu, Unnes mulai berani bersaing dengan universitas negeri lain di kota Semarang semisal Undip, dan universitas lain di Indonesia. Unnes memperkenalkan dirinya lewat LKTM (Lomba Karya Ilmiah Mahasiswa). Unnes pernah menjuarai LKTM tingkat nasional dan masih banyak lagi prestasi yang dihasilkan oleh mahasiswa dan mahasiswi Unnes. Alumni dari Unnes sendiri juga mampu bersaing dengan alumni universitas lain. Jadi dapat dilihat bahwa sumber daya manusia di Unnes juga banyak yang berkualitas walaupun ada sebagian kecil mahasiswanya kurang dalam kualitas dan kuantitasnya.

Unnes yang dulunya hanya bercita-cita menjadi universitas berskala nasional sekarang ingin lebih meningkat menjadi go internasional. Namun siapkah mahasiswa Unnes untuk mencapai cita-cita tersebut?

Untuk menjawab pertanyaan di atas Unnes harus lebih berbenah diri. Sebenarnya masih banyak keluhan mengenai sistem pendidikan yang dilakukan di Unnes. Keluhan itu dapat berupa sistem registrasi yang selalu berganti-ganti tiap tahunnya sehingga tidak hanya mahasiswa yang dipusingkan tetapi dosen juga ikut menjadi korban berubahnya sistem registrasi. Dulu, Unnes hanya memakai registrasi secara manual tapi demi cita-cita Unnes tersebut semua diubah menjadi siatem on line yang serba internet. Kali pertama digunakannya sistem tersebut membuat para mahasiswa kesulitan dan mengeluarkan banyak uang untuk pergi ke warnet demi mengisi KRS (Kartu Rencana Studi) dan melihat KHS (Kartu Hasil Studi) karena di jurusan masing-masing belum terdapat fasilitas internet. Selain itu, jaringan dari alamat web site Unnes masih sulit untuk dibuka membuat mahasiswa menjadi tambah bingung.

Kendala di atas akhirnya dapat diatasi setelah sistem tersebut berulang kali dilakukan untuk registrasi. Setelah kendala tersebut dapat terselesaikan, masih banyak lagi masalah seperti terbatasnya ruang belajar dan sering terjadinya berebut ruang antar dosen, seperti yang terjadi di gedung B1. Gedung ini menampung dua jurusan yaitu jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia serta jurusan Bahasa dan Sastra Jawa yang masing-masing jurusan terdiri atas dua prodi sehingga gedung ini selalu menampung banyak mahasiswa yang kadang berebut ruang untuk kuliah. Jika ruang perkuliahan penuh, dosen lebih memilih berkuliah di Gazebo atau taman yang ada di sekitar gedung. Untuk mengatasi masalah tersebut jurusan menjadwalkan kuliah malam. Namun, cara ini pun dianggap kurang efektif. Hujan yang tiba-tiba mengguyur daerah Gunungpati di waktu malam membuat mahasiswa enggan keluar dari kos untuk kuliah. Belum lagi pemadaman listrik yang biasanya mengiringi datangnya hujan.

Dan, baru-baru ini terdapat masalah tentang semrawutnya pemasukan nilai SP (Semester Pendek) yang dikarenakan adanya perubahan sistem dan kurikulum. Jalur pemasukan nilai SP ini mulai terbengkelai sejak sistem online diberlakukan sehingga banyak kalangan mahasiswa yang juga mengeluh.  Nilai SP yang tidak keluar disebabkan karena kesalahan penulisan nomor induk mahasiswa dan keterlambatan mengambil bukti nilai SP.

Problem tersebut merupakan sebagian masalah yang ada di Unnes yang harus dikaji sebelum Unnes meraih cita-citanya untuk go internasional. Sumber daya manusia di Unnes merupakan pemikir yang nantinya akan menjadi pemecahan dari masalah tersebut. Sebaiknya Unnes sebagai universitas negeri hendaknya lebih banyak melakukan sosialisasi tentang sistem-sistem baru atau kebijakan-kebijakan yang dicoba diterapkan kepada semua warga Unnes tak terkecuali dosen sehingga kemajuan dapat dilakukan dan cita-cita go internasional dapat tercapai tanpa harus merugikan pihak lain.

 

 

No Comments Yet »

Belum ada komentar.

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

Blog pada WordPress.com.