…..Tembangmu apik ngger.
…..Apik ning ora payu mbok
…..Aku arep nunggu tekane sekolah kang cocok kanggo ilat lan atiku, Mbok.
…..Aja ngimpi ngger, tenan ora ono wong rekasa yen urip entuk ngarani.
…..Tek jajale yen urip isih ana sing ditunggu, isih isa ngarani, Mbok.
…..Kapan, kapan ngger….????
…..Nyanyianmu bagus nak.
…..Bagus tapi nggak laku Bu
…..Aku mau menunggu datangnya sekolah yang cocok untuk lidah dan hatiku, Bu.
…..Jangan mimpi Nak, benar tidak ada orang susah kalau hidup bisa boleh memilih.
…..Aku coba kalau hidup masih ada yang ditunggu, masih bisa memilih, Bu.
…..Kapan, kapan nak…..????
Itulah sepenggal dialog yang dibawakan teater Lingkar dalam lakon “Sekolah Unggulan” yang digelar di Gedung B6, FBS, Unnes, Selasa malam (29/4). Hima Bahasa dan Sastra Jawa menyelenggarakan pementasan tersebut dalam rangka menyambut Hari Pendidikan Nasional yang akan kita peringati tanggal 2 Mei nanti. Lakon “Sekolah Unggulan” mengisahkan tentang sebuah sekolah unggulan yang sedang membuka pendaftaran murid baru. Sekolah tersebut membanggakan sistem pembelajaran mereka agar warga sekitar mau menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut. Mereka menjamin semua anak yang bersekolah di situ pasti akan lulus dan menjadi orang yang sukses. Akhir cerita kedua orangtua salah seorang murid meninggal dunia karena mengetahui anak mereka tidak lulus dalam ujian akhir di sekolah unggulan tersebut. Anak itu tidak diluluskan karena tembang Jawa yang ia nyanyikan dengan baik dan runtut saat ujian akhir ternyata tidak lucu dan tidak bisa membuat tertawa tuan guru.
Pementasan yang berdurasi kurang lebih 2 jam ini dipimpin oleh Dhananjaya dan disutradarai oleh Maston serta dibantu oleh Prie. G. S sebagai penulis naskah. Pementasan juga didukung tata rias/busana dari Jeng Dhien, penata panggung oleh Alfianto, dan penata lampu oleh Mahfud. Lakon “Sekolah Unggulan” ini dimainkan oleh mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa semester empat. Sejumlah dosen Bahasa dan Sastra Jawa juga turut bermain dalam pertunjukkan itu. Pelakon dalam teater tersebut adalah tuan guru oleh Budi Bobo, Pranotocara oleh Roso Power, wali murid 1 oleh Wiwik, wali murid 2 oleh Prih Raharjo, murid 1 oleh Dhodok, murid 2 oleh Dwi Imut, Murid 3 oleh Jeng Siti, Murid 4 oleh Pandu, Murid 5 oleh Dina, Murid enam oleh Adhie, Srikandhi oleh Liston, Simbok oleh Jeng Sri, Bapak oleh Basuki.
Pertunjukkan teater yang diilustrasi oleh Fai, Kris Ganja, Teguh Ari, dan Iqbal ini mampu menyedot perhatian mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Unnes. Buktinya, acara ini dihadiri sekitar 1000 orang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Unnes dan sejumlah dosen jurusan Bahasa dan Sastra Jawa serta sejumlah wartawan dari luar Unnes. Walaupun harga tiket Rp 4000,00 penonton masih tetap membanjiri gedung B6 Fakultas Bahasa dan Seni Unnes.
Sayangnya, pementasan teater lingkar ini disajikan menggunakan bahasa Jawa sehingga membuat penonton bosan dan kurang memahami alur ceritanya. Banyak penonton yang mengantuk dan mengobrol dengan temannya. Namun, pertunjukkan menjadi meriah lagi saat Srikandhi yang dilakonkan oleh Liston menuju ke panggung. Lakon yang dimainkan Srikandhi sangat menghibur dan membuat para penonton tertawa melihat tingkahnya.
Saat pertunjukkan ini berlangsung penonton terpaksa menikmati pertunjukkan dengan duduk lesehan karena hanya disediakan karpet dari panitia. Karpet yang disediakan pun hanya beberapa buah saja sehingga ada beberapa penonton yang tidak bisa duduk di karpet. Ada juga yang lebih memilih duduk di depan pintu samping kanan-kiri gedung B6. Mereka lebih memilih duduk di situ karena bisa bersender pada pintu dan meluruskan kaki. Penonton merasa kecewa karena tiket yang mereka bayar tidak bisa memberikan mereka kenyamanan saat menonton pertunjukkan.
Acara ini selesai sekitar pukul 22.30 WIB dan ditutup dengan musik akhir oleh para illustrator. Semua penonton merasa puas menonton pertunjukkan tersebut. Selain pementasannya dikemas dengan menarik dan sangat menghibur kita juga dapat menambah wawasan kita mengenai dunia pendidikan sekarang ini.